Tuesday, February 06, 2007

Enrico, Sang Pengampun

Bila ada seseorang yang menyakiti Anda dengan dalam, apakah yang akan Anda lakukan? Apakah Anda membalas rasa sakit hati itu dengan cara membalas menyakiti juga? Ataukah Anda hanya berdiam diri saja, tanpa mencari solusi yang tepat akan masalah tersebut? Atau apakah justru mengampuni orang yang telah menyakiti Anda? Enrico memberi pelajaran penting bagi saya untuk mengampuni lawan dan orang yang tidak saya sukai dan mengambil penerapan yang kreatif hari ini (fx476).


HARGA SEBUAH PENGAMPUNAN

Di Paris, sebelum Perang Dunia II, tinggal seorang Perancis keturunan Italia bernama Enrico. Dia berusaha di bidang bisnis konstruksi. Tidak lama setelah mengenal Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat secara pribadi, dia keluar pada larut malam, berjalan-jalan di tempat penjualan kayu miliknya.

Pada saat itu, dia melihat dua bayangan melompat dari sebuah truk dan berjalan memasuki tempat penjualan kayunya. Dia berhenti dan berdoa.

"Tuhan, apa yang harus kulakukan?" Sebuah rencana memasuki pikirannya.

Dia berjalan menuju kedua orang yang sedang memuat beberapa batang kayunya itu ke truk mereka. Dengan tenang, dia mulai membantu menolong mereka mengangkut kayu.

Setelah beberapa menit, dia bertanya kepada mereka, "Untuk apa kayu-kayu ini?"

Mereka memberitahunya dan dia menunjuk ke tumpukan kayu yang lain. "Kayu yang di sana itu lebih baik untuk itu," jelasnya.

Ketika truk itu sudah penuh, seorang dari mereka berkata kepada Enrico, "Engkau jelas seorang pencuri yang baik!"

"Oh, tetapi aku bukan seorang pencuri," jawabnya.

"Tentu saja! Kau telah menolong kami tengah malam begini. Kau tahu apa yang kami lakukan."

"Ya, aku tahu apa yang kalian lakukan, tetapi aku bukan seorang pencuri," katanya. "Kalian tahu, aku bukan pencuri karena ini adalah tempat penjualan kayu milikku dan ini adalah kayuku."

Kedua orang itu sangat ketakutan. Orang Kristen itu menjawab, "Jangan takut. Aku tahu apa yang kalian lakukan, tetapi aku memutuskan untuk tidak memanggil polisi. Jelas kalian belum tahu bagaimana untuk hidup secara benar, jadi aku akan mengajari kalian. Kalian boleh memiliki kayu itu, tetapi lebih dulu aku ingin kalian mendengar apa yang perlu kukatakan."

Dia memiliki dua orang pendengar! Kemudian pria itu mendengarkannya, dan tiga hari kemudian keduanya bertobat. Yang satu menjadi pendeta dan yang lainnya menjadi pemimpin gereja. Sejumlah kayu adalah harga yang terlalu murah bagi dua jiwa. Yesus mengajar kita, bahwa satu jiwa jauh lebih berharga daripada seluruh dunia.

Jadi, bukan pemberian kayu itu yang membuat kedua orang itu datang kepada Kristus, melainkan tindakan pengampunan yang diulurkannya ketika mereka tertangkap sedang mencuri. Mereka tahu Enrico dapat saja membuat mereka tertangkap dan mereka tahu juga, bahwa orang ini mengampuni mereka, bahkan sebelum mereka bertobat. Tindakan seperti itulah yang dilakukan Yesus di kayu salib. Dia mengulurkan pengampunan-Nya kepada kita sebelum kita bertobat.

Langkah pengampunan berikutnya yang dilakukan oleh Enrico lebih mahal daripada sejumlah kayu.

Peristiwa ini terjadi setelah Nazi menginvasi dan mengambil alih Perancis. Pada suatu malam, sebuah keluarga Yahudi datang ke rumahnya. Dia membawa mereka masuk, menyembunyikan mereka dari Gestapo selama dua tahun. Akhirnya, seseorang menemukan rahasianya dan melaporkannya. Gestapo datang dan mengambil keluarga Yahudi itu, kemudian menangkap Enrico.

Natal 1944, beberapa bulan setelah penangkapannya, Enrico masih di penjara. Komandan kamp memanggilnya untuk melihat hidangan lezat yang tersaji di atas meja. Komandan itu berkata, "Aku ingin kamu melihat makan malam Natal yang dikirimkan istrimu untukmu sebelum aku menikmatinya. Istrimu juru masak yang hebat! Dia telah mengirimimu makanan setiap hari selama kamu di penjara dan akulah yang menikmati semua makanan itu."

Saudara Kristen kita ini amat kurus, hanya tinggal tulang dibungkus kulit. Matanya kosong memancarkan rasa lapar. Tetapi dia melihat ke makanan yang tersaji di atas meja itu dan berkata, "Aku tahu istriku ahli masak yang hebat! Aku yakin engkau pasti menikmati makan malam Natal ini."

Komandan itu memintanya untuk mengulangi apa yang dikatakannya. Enrico mengulangi ucapannya dan menambahkan, "Aku harap engkau menikmati makan malam ini karena aku mengasihimu."

Komandan itu berteriak, "Keluarkan dia dari sini! Dia sudah gila!"

Perang berakhir dan Enrico dibebaskan. Perlu waktu dua tahun baginya untuk memulihkan kembali kesehatannya. Dan Allah juga mulai memberkati usahanya kembali.

Dia memutuskan untuk mengajak istrinya kembali ke kota tempat dia dipenjarakan, untuk mengucapkan syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan nyawanya.

Ketika mereka tiba, mereka mendapat kabar, bahwa mantan komandan penjara itu tinggal di desa yang sama. Sekali lagi, Allah memberi sebuah gagasan kepada Enrico untuk pengampunan yang kreatif. Dia teringat bahwa komandan itu senang pada masakan istrinya. Mereka berbelanja, mencari sebuah tempat untuk memasaknya dan tidak lama kemudian, mereka muncul di pintu rumah komandan itu dengan dua keranjang makanan.

Mereka diundang masuk. Kemudian Enrico berkata, "Engkau tidak mengenali saya, bukan?" Enrico jelas telah berubah. Berat badannya telah kembali seperti semula.

Komandan itu menggelengkan kepalanya.
Kemudian Enrico mengingatkannya, "Pada hari Natal tahun 1944, saya sedang berada di kantormu. Saya mengatakan bahwa saya mengasihimu dan engkau menganggap saya gila."

Mantan komandan itu tampak pucat dan menjauhinya. Teman Kristen kita berkata, "Jangan takut! Kami tidak datang untuk menyakitimu. Dulu saya mengatakan bahwa saya mengasihimu dan saya masih tetap mengasihimu."

Komandan itu berdiri terpaku dengan mata menerawang.

"Saya tidak gila, saya benar-benar mengasihimu. Dan saya ingin menunjukkan kepadamu bahwa saya serius. Perang telah usai. Sekarang waktu damai. Istri saya dan saya ingin duduk bersamamu dan istrimu untuk makan bersama. Maukah engkau menerima permohonan kami?"

Saat mereka mulai menikmati makanan melimpah yang dimasak istri Enrico, komandan itu tiba-tiba menurunkan pisau dan garpunya. "Apa yang hendak kaulakukan terhadapku?"

Teman Kristen kita menjawab, "Tidak ada. Kami hanya ingin engkau tahu bahwa kami mengasihimu. Kami mengampunimu."

"Bagaimana engkau dapat melakukan hal itu?"

"Kami jelas tidak mampu melakukan hal ini dengan kekuatan kami sendiri," kata Enrico, "tetapi Yesus Kristus mengajari kami untuk mengampuni." Enrico bersaksi tentang Yesus, dan sebelum orang itu dapat melanjutkan makannya, dia berlutut untuk menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya pribadi.

Bahan diambil dari sumber:
Judul buku: Menang Dengan Cara Allah
Judul asli: Winning God's Way
Penulis : Loren Cunningham dan Janice Rogers
Penerbit : Yayasan Andi, Yogyakarta 2000
Halaman : 123 -- 127

Tuesday, October 17, 2006

Bijakkah Lidah Kita?

Renungan Ibadah Perki (15 Oktober 2006)
Oleh: Yadi Rayendra

Mengapa lidah, mulut atau bibir kita menjadi topik yang begitu penting untuk dibicarakan atau didiskusikan? Topik tentang menjaga lidah bukan merupakan hal yang baru. Tetapi mengapa begitu penting untuk terus diingatkan tentang bagaimana kita menjaganya dengan bijak? Fakta memperlihatkan bahwa orang yang suka berbicara diperkirakan melontarkan 30.000 kata setiap hari! Artinya, kita menghabiskan banyak waktu dalam hidup kita hanya untuk bicara. Pertanyaannya adalah, bagaimana perkataan kita, entah banyak maupun sedikit, mempengaruhi sesama kita?


Selanjutnya, kita diajak untuk menyadari bagaimana kekuatan lidah kita, baik yang bersifat positif maupun negatif mempengaruhi kehidupan kita ataupun sesama kita. Tuhan Yesus mengungkapkan dalam Matius 15:18-20: "Apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, kesaksian palsu dan hujat. Hal-hal inilah yang menajiskan orang". Disini dengan tegas Yesus mengatakan bagaimana besarnya pengaruh atau kuasa dari kata-kata yang keluar dari mulut kita. Ternyata, disadari atau tidak lidah yang sama dari satu mulut yang sama bisa berfungsi untuk mendatangkan berkat atau kutuk bagi diri kita atau sesama kita.


Raja Salomo dalam Amsal 10:19 menulis, "Siapa yang menahan bibirnya, berakal budi". Namun, di lain pihak Yakobus berkata, "Tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan". Disini Rasul Yakobus menegaskan bahwa tidak mudah bagi kita untuk mengendalikan lidah kita dengan kekuatan kita sendiri. Lidah disini digambarkan sebagai sesuatu ang buas, penuh racun yang mematikan. Lebih jauh, Yakobuspun mengatakan bahwa dengan lidah kita memuji Allah yang menciptakan kita, dengan lidah pula kita mengutuk manusia yang diciptakan-Nya. Masalah dengan lidah ini jelas-jelas oleh Yakobus ditujukan kepada orang percaya.


Tidak adanya penguasaan lidah bisa digambarkann sebagai suatu penyakit. Seringkali diagnosa suatu penyakit dapat dilakukan hanya dengan melihat bagian dalam mulut seseorang. Beberapa penyakit dapat diketahui dengan memeriksa keadaan lidah. Hal serupa juga dapat dilakukan untuk memeriksa kesehatan rohani seseorang. Tutur kata yang diucapkan seseorang akan mencerminkan apa yang ada dalam diri orang itu. Yesus dalam Matius 12:34 berkata, "Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati".


Penulis kitab Amsal, dalam Amsal 13:3 berkata, “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan” dan dalam Amsal 18:6 berkata “Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan, dan mulutnya berseru meminta pukulan”. Betapa banyak kesulitan yang dapat dicegah jika kita mau belajar mengendalikan lidah kita! Betapa banyak sakit hati yang kita sebabkan bagi orang lain dapat dicegah jika kita mau menjaga perkataan kita!


Bagaimana kita mengendalikan lidah kita agar perkataan kita bisa menjadi berkat dan bukan menjadi batu sandungan bagi orang lain? Salomo menulis dalam Amsal 12:18: "Lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan“. Kata kunci dari ayat tersebut bukanlah lidah melainkan bijak. Lidah tidak dapat mengontrol dirinya sendiri, karena lidah hanya berfungsi bila kendali pemiliknya diaktifkan. Untuk dapat menjadi bijak mengontrol dan menggunakan lidah kita, tentu kita perlu dokter yaitu Allah kita, Yesus Kristus. Rasul Paulus dalam Roma 6:13 berkata bahwa kita perlu memilih untuk menyerahkan anggota-anggota tubuh kita "kepada Allah untuk menjadi senjata senjata kebenaran," bukan "kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman." Jadi kata kuncinya adalah, kita dengan sadar memilih untuk menyerahkan lidah kita pada tabib Agung, yaitu Allah kita untuk dapat disembuhkan dan digunakan sebagai senjata kebenaran dan bukan sebagai senjata kelaliman. Jadi, bila kita ingin bijak, kita datang kepada dokter sumber kebijakan itu, yaitu Tuhan Yesus Kristus sendiri.


Berikut ini ada beberapa penerapan praktis yang dibagikan oleh Richard De Haan.

1. Menyerahkan anggota tubuh kita kepada Tuhan, termasuk lidah kita. Sebagai ayat yang bisa menolong kita, kita bisa lihat di Roma 12:1. Di sana Rasul Paulus mendorong kita untuk menyerahkan anggota tubuh kita, sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, agar dipakai sebagai alat yang membawa berkat. Dengan menyerahkan tubuh kita, termasuk lidah kita, kita sedang dengan rendah hati membiarkan Tuhan memakai tubuh kita sebagai sesuatu yang menyenangkan dan ibadah bagi Dia.

2. Memohon pertolongan dari Tuhan setiap saat. Dalam hal ini, kita bisa mengikuti teladan raja Daud. Dalam Mazmur 141:3, Daud meminta/memohon pertolongan Allah untuk "mengawasi" mulutnya dan "berjaga pada pintu" bibirnya. Kita semua tahu bahwa Daud adalah seorang raja yang bijak, yang mengasihi Allah, yang hidupnya selalu berpadanan pada kehendak Allah. Tetapi, dia tetap rendah hati untuk meminta dan senantiasa melibatkan pertolongan Tuhan dalam menjaga bibir dan lidahnya, karena dia sadar dengan kekuatannya sendiri, dia tak sanggup menjaga lidahnya. Dia pun sadar bahwa lidahnya bisa menjadi berkat, bila Allah bersemayam dan berjaga di pintu bibirnya. Hal ini bisa mendorong kita, yang sedang terus belajar bertumbuh di dalam Allah untuk mengikuti teladan Daud, untuk dengan rendah hati senantiasa meminta pertolongan Tuhan untuk mengawasi mulut dan berjaga pada pintu bibir kita.

3. Berpikirlah sebelum kita membuka mulut dan belajarlah untuk sedikit berbicara. Sebelum kita melontarkan rentetan kata-kata yang bisa menjadi batu sandungan, ada baiknya kita diam sejenak dan mempertimbangkan kata-kata kita di dalam hati. Sebagai penerapan praktis, kita bisa menaruh ayat-ayat Firman Tuhan di dalam hati dan mulut kita yang bisa meneguhkan atau mengingatkan kita tentang bagaimana menggunakan lidah. Dengan mengingat ayat-ayat dari Firman Tuhan, kita berarti sedang mengisi diri kita sehingga kita bisa lepas dari ancaman si iblis.


Akhirnya kita perlu menyadari bahwa tutur kata kita banyak berbicara tentang jati diri kita. Aksen kita menunjukkan negara atau daerah asal kita. Kata-kata kita mengungkapkan tingkat pendidikan atau budi bahasa kita. Topik diskusi kita menunjukkan minat utama kita dalam kehidupan, karena biasanya kita membicarakan hal-hal yang paling kita sukai. Dan, percakapan kita mengungkapkan tujuan kekal kita, karena orang-orang yang akan ke surga berbicara dengan "bahasa kemuliaan." Sebaliknya, orang-orang yang akan ke neraka berbicara dengan "bahasa kesesatan." Setelah ini, pilihan sepenuhnya ada di tangan kita. Bagaimana dan kemana akan kita bawa tujuan hidup kita, tergantung pada pilihan kita untuk mengendalikan diri kita, termasuk lidah kita. Tetapi satu yang bisa kita pegang, Tuhan Yesus selalu ada di sana dan mampu menolong kita untuk bisa menjaga lidah kita dengan bijak.

Bahan renungan diambil dari berbagai sumber di http://www.sabda.org/

Monday, October 09, 2006

Pencobaan dan Penderitaan

Kadang kala hal-hal kecil dapat membuat kita jatuh, bukan? Komentar yang tidak mengenakkan dari seorang teman, kabar buruk dari montir mobil, kesulitan keuangan, atau anak yang sulit diatur dapat memunculkan awan kemuraman di atas segala hal, bahkan di hari yang cerah sekalipun. Anda sadar bahwa Anda harus bersukacita, namun tampaknya segala sesuatu menentang Anda, sehingga membuat tugas-tugas sederhana menjadi pergumulan berat.

TELADAN DAUD (Mazmur 6)

1. Yang dirasakan Daud saat dalam pergumulan (ayat 3-8): ____________________

2. Reaksi Daud saat mengalami kejatuhan (ayat 9-11): ____________________

TUJUAN PENDERITAAN

Penderitaan dapat membawa kita pada kehidupan yang lebih dalam dan penuh bila kita terima dengan kesabaran dan kerendahan hati.

3. Tujuan dan fungsi penderitaan

Mzm. 199:67 _______________

Mzm. 119: 71 _______________

2 Kor 12:9 _______________

Yak 1:2- 4 _______________

MENGANDALKAN KRISTUS DALAM PENCOBAAN

Saat kita memandang ke atas dan memusatkan perhatian kepada Allah, maka sesuatu yang baik terjadi. Mata kita tidak lagi tertuju kepada diri sendiri dan kita pun memperoleh sikap penghargaan yang baru terhadap Dia. Jika di kemudian hari Anda jatuh, cobalah memandang ke atas kepada Allah.

4. Karena Tuhan Yesus, Putra Allah, telah menjadi manusia, maka Dia juga dapat memahami berbagai ujian dan pencobaan yang kita hadapi. Dia memahami setiap dukacita, derita, dan kesulitan yang kita hadapi.

Ibrani 2: 18 _______________

Ibrani 4: 15 _______________

Ibrani 2: 14-17 _______________

5. Alasan kita bisa mengandalkan Kristus dalam pencobaan:

Mazmur 47:9 ____________________

Mat. 6:26 ________________________

1 Yoh. 4:9.10 ____________________

Yak 1: 2-4 ________________________

Hidup kerap kali tampak tak tertahankan. Namun, janganlah hal itu membuat Anda terus jatuh. Renungkanlah kebaikan Allah, berbicaralah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Dia mendengarkan Anda (Mazmur 6:10). Semua itu akan memberi Anda kekuatan untuk bangkit saat Anda jatuh —Dave Branon

PENERAPAN: ______________________________

Monday, July 17, 2006

Dealing with Priority

Renungan Ibadah PERKI dan Pengucapan Syukur Pernikahan Lars-Marlen (16 Juli 2006)
oleh: Felix Pasila

Apakah anda sedang letih dengan banyak hal yang anda kerjakan?
Apakah anda sedang mengerjakan sesuatu yang benar-benar penting saat ini?
Mari belajar bersama Hukum Prioritas

Dalam dunia bisnis dan leadership dikenal Pareto Principle, 80-20 rule:
Habiskan 80% waktu anda untuk mengembangkan 2 dari 10 karyawan terbaik anda, maka anda sedang mencapai keuntungan 80%

Siapa/apa yang penting bagi anda saat ini? Pada saat yang bersamaan, mana yang harus anda dahulukan?
- Pekerjaan/study?
- Keluarga?
- Teman/pacar?
- Pelayanan?
- Mengenal Allah?
- Masa depan?
- Pengembangan diri?

Prinsip Keseimbangan
Matius 4:4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."
1 Timotius 3:5 Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?

Siapa yang Allah ingin anda utamakan?
Yesaya 30:15-16: _______________
Setelah itu Allah ingin anda memprioritaskan ? _______________

Tantangan Prioritas
Memilih mana yang harus diutamakan dan mana yang bisa dikerjakan bertahap/ditunda.

Prioritas mengenal dan menikmati hubungan dengan Allah?
1. .......................................
2. .......................................

Prioritas anda dalam mengembangkan diri, berorganisasi, pelayanan, hobby?
1. .......................................
2. .......................................

Prioritas anda dalam dalam pekerjaan/study?
1. .......................................
2. .......................................

Prioritas anda terhadap keluarga?
1. .......................................
2. .......................................

Prioritas anda dalam hal keuangan/investasi?
1. .......................................
2. .......................................

Saturday, March 18, 2006

Pemikiran yang penuh doa

Bacaan : Mazmur 8
Nats : Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? (Mazmur 8:5)

Agustinus merupakan salah seorang pemikir kristiani yang paling hebat sepanjang masa. Yang menarik, ia berdoa dengan khusuk dan efektif ketika sedang serius memikirkan sesuatu. Ia mungkin dijuluki "pemikir yang berdoa". Kerap kali Agustinus mulai menyusun sebuah dalil dan mengakhirinya dengan doa. Kutipan berikut ini adalah salah satu contoh yang diambil dari Confessions, salah satu karya teologinya:
"Betapa terlambat kudatang untuk mengasihi Engkau, Yang Terindah dari dulu dan sekarang; terlambat kudatang untuk mengasihi-Mu .... Engkau telah memanggilku; ya, Engkau bahkan telah membuka telingaku. Cahaya-Mu menyinari aku dan mencelikkan mataku."
Ini bukanlah suatu renungan yang hampa dari seorang teolog gadungan atau filsuf yang hanya mampu memaparkan teori. Akan tetapi, ini adalah pemikiran dari seseorang yang memiliki kehidupan doa yang tulus.
Berpikir sambil berdoa bukanlah suatu hal yang aneh bagi Agustinus. Daud pernah merenungkan keindahan ciptaan sehingga ia menjadi terdorong untuk menyembah Sang Pencipta: "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?" (Mazmur 8:4,5).
Pada saat kita menjalani kehidupan, pemikiran terdalam, perasaan, dan doa kita dapat saling bertautan. Ketika kita sedang melihat keindahan alam, atau bahkan sedang menyelesaikan sebuah masalah, maka saat seperti itu dapat menjadi kesempatan untuk berpikir sambil berdoa --HDF

BERPIKIR SAMBIL BERDOA MENUNTUN KITA UNTUK BERSYUKUR DENGAN PENUH ARTI

Sumber: http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2006/03/18/#SABDAweb

Friday, February 24, 2006

Mengembangkan sikap sebagai murid Kristus di pekerjaan dan study

oleh: Felix Pasila

Kolose 3:23
Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian
mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia. (Alkitab BIS)

1. Adakan selalu perenungan sebelum memulai segala sesuatu: bagaimana sikap kebergantungan kepada Tuhan Yesus ditunjukkan.
2. Apakah ada yang salah dan tidak sesuai dengan hati nurani dengan
langkah-langkah yang selama ini diambil. Kalau ada, segera buat langkah perubahan.
3. Selalu membuat daftar kegiatan penting yang harus dikerjakan, pilih mana yang harus diutamakan dan segera dilakukan dan mana yang bisa dikerjakan secara bertahap atau ditunda.
4. Kejarlah selalu keunggulan dalam segala sesuatu yang dikerjakan dan kembangkan kecerdikan dalam menyelesaikan segala sesuatu.
5. Dalam hal keuangan bersikaplah selalu hemat, teliti dalam penggunaan atau pengeluarannya, lebih baik menunda pengeluaran untuk menguji tingkat kepentingannya.
6. Selalu bersikap bahwa semua uang yang dipercayakan adalah uang Tuhan, untuk dipergunakan dengan penuh tanggung jawab.
7. Bukan rapinya laporan keuangan yang diutamakan, tetapi ketepatan penggunaan uang.
8. Memilih jalan penderitaan demi keberhasilan jangka panjang, daripada sikap memilih jalan mudah untuk keberhasilan jangka pendek yang temporer.
9. Selalu bersikap menguasai diri dalam hal : makan, mencari hiburan, waktu istirahat, ngobrol tanpa arah.
10. Selalu bersikap melayani dan memberi yang terbaik kepada yang dilayani(baca Suami/Istri, anak, teman sekerja, Bos).
11. Selalu bersikap ramah, sukacita, penuh semangat.
12. Selalu ambil inisiatip untuk mencari solusi bagi permasalahan yang
dihadapi oleh orang yang dilayani.
13. Selalu mengembangkan diri dengan banyak membaca buku, belajar dari orang lain yang lebih tahu dan trampil, bertanya sebanyak mungkin mencari permasalahan dan hal-hal yang bisa dikembangkan di masyarakat.
14. Menikmati waktu rekreasi dan libur secara total pada saat yang direncanakan.
15. Akhiri setiap hari dengan doa pemeriksaan diri di hadapan Tuhan Yesus, mohon penyucianNya, menyerahkan diri (dan keluarga) dan bersyukur atas setiap anugerahNya.